Dampak Psikologi dari Victim Blaming dan Cara Menghentikannya

Para ahli psikologi menyatakan bahwa hampir dapat dipastikan korban dari tindak kekerasan merasa malu dan menginternalisasi luka, baik mental maupun emosional. Efek tersebut di luar dari dampak fisik dari kekerasan itu sendiri. Belum lagi, korban masih harus berhadapan dengan budaya victim blaming yang begitu kuat di lingkungan sosial.

victim blaming

Betapa sulitnya menjadi korban, mereka disalahkan oleh orang lain atas kekerasan atau luka yang menimpa dirinya. Budaya menyalahkan korban atau victim blaming memiliki dampak psikologis yang membuat korban sulit pulih.

Efek psikologis dari victim blaming

Tidak hanya di Indonesia, hampir di seluruh belahan dunia, tendensi untuk memandang korban sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan yang terjadi pada mereka, masih kerap terjadi. Victim blaming menyiratkan bahwa kesalahan dari kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, atau tindak kekerasan lainnya, terletak pada korban, bukan pada pelaku. Cara pandang yang bukan hanya keliru, tapi memiliki imbas negatif yang sangat besar.

Di bawah ini beberapa dampak buruk dari budaya menyalahkan korban:

  • Korban akan merasa malu dan mempertanyakan perasaannya. Seolah-olah rasa terluka yang dialaminya menjadi tidak valid. Korban pun mulai percaya bahwa kekerasan terjadi karena kesalahannya. Hal ini akan semakin membuat korban menyalahkan diri sendiri dan terpuruk.
  • Korban akan kesulitan menceritakan atau melaporkan kekerasan yang dialaminya. Akibatnya, semakin sulit bagi korban untuk pulih dan semakin banyak pelaku kekerasahan yang tidak menjalani proses hukum.
  • Suatu tindakan kekerasan jadi terkesan sepele. Padahal, tindakan kekerasan, pelecehan seksual misalnya, benar-benar membuat hidup korban tidak akan pernah sama lagi. Korban harus menjalani trauma di sisa hidupnya.
  • Korban yang selamat dari suatu tindakan kekerasan justru jadi termarginalkan.
  • Kesulitan untuk memandang sesuatu secara objektif.

Victim blaming yang dilakukan secara kolektif telah menciptakan sistem yang tidak berpihak kepada korban.

Upaya menghentikan victim blaming       

Memahami mengapa victim blaming dapat terjadi, membantu untuk mencegah budaya ini terus berlanjut. Kecenderungan menyalahkan korban muncul sebagai upaya untuk menjauhkan diri dari tindak kekerasan tersebut.

Ada sebuah pemikiran yang bias, di mana mereka yang menyalahkan korban beranggapan bahwa dirinya tidak berperilaku atau berpenampilan seperti korban, maka dirinya tidak akan menjadi korban kekerasan. Untuk mempertegas pendapat tersebut, mereka pun menyalah korban, terutama pada sisi yang mereka pikir berbeda dengan dirinya.

Pemicu lainnya adalah kurangnya empati. Seandainya semua orang dapat memiliki empati, kecil kemungkinan seseorang akan melakukan victim blaming.

Lalu, kontribusi apa yang dapat dilakukan untuk menghentikan budaya menyalahkan korban ini? Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan:

  • Setiap kali Anda mendengar pernyataan yang sifatnya victim blaming, tantang opini atau pernyataan tersebut.
  • Jangan pernah memaklumi alasan di balik tindak kekerasan yang disampaikan pelaku.
  • Sampaikan kepada korban bahwa kejadian tersebut bukanlah kesalahan mereka.
  • Tuntut tanggung jawab dari pelaku.
  • Ubahlah pertanyaan “Mengapa korban tidak lari?” menjadi “Mengapa pelaku melakukan tindakan kekerasan?”.

Tiap kali kita berpendapat, ‘seandainya korban melakukan tindakan berbeda, sebelum atau saat tindak kekerasan terjadi’, berarti kita sudah turut serta menyalahkan korban. Sebab yang patut dipertanyakan adalah tindakan pelaku, bukan tindakan korban. Semoga rantai ini terputus di kita dan terbangun lingkungan yang lebih mendukung korban.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>