Hipersomnia: Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatannya

Hipersomnia merupakan gangguan tidur yang menimbulkan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Tidak jarang, penderita Hipersomnia akan tidur seharian atau sulit terjaga sepanjang hari.

Orang yang mengidap Hipersomnia dapat tertidur kapan saja dan di mana saja. Misalnya, seperti di kantor atau bahkan saat mereka sedang mengemudi. Tentunya, hal ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan sangat berbahaya bagi keselamatan.

Penyebab Hipersomnia

Ada beberapa penyebab Hipersomnia, di antaranya:

  1. Gangguan tidur narcolepsy (kantuk di siang hari) dan sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur).
  2. Kurang tidur di malam hari
  3. Kelebihan berat badan
  4. Konsumsi obat-obatan atau alkohol
  5. Cedera kepala atau penyakit neurologis, seperti penyakit Parkinson.
  6. Riwayat genetika (memiliki keluarga yang hipersomnia)
  7. Depresi

Cara Mendiagnosis Hipersomnia

Apakah Anda terkena hipersomnia? Untuk mengidentifikasi gangguan tidur ini, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter Anda.

Dokter akan menanyakan bagaimana kebiasaan tidur Anda? Berapa lama waktu tidur Anda di malam hari? Apakah Anda sering terjaga di malam hari dan siangnya merasa sangat mengantuk?

Dokter juga akan menanyakan tentang masalah emosional atau mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menimbulkan masalah gangguan tidur.

Selain itu, dokter juga mungkin meminta Anda untuk tes darah, CT scan, dan tes tidur yang disebut polysomnography.

Pengobatan Hipersomnia

Setelah mengetahui gejala-gejala hipersomnia, lalu bagaimana cara mengobatinya? Dokter akan meresepkan berbagai obat yang tepat. Di antaranya seperti stimulan, antidepresan, serta beberapa obat baru (misalnya, Provigil dan Xyrem).

Sedangkan, bagi para penderita gangguan tidur yang didiagnosis sleep apnea, dokter akan meresepkan pengobatan yang dikenal sebagai CPAP atau tekanan saluran udara positif terus-menerus.

Dengan CPAP, penderita akan diminta menggunakan masker di hidung saat tidur. Sementara itu, mesin CPAP akan mengalirkan udara secara terus-menerus melalui selang yang dimasukkan ke lubang hidung dan terhubung dengan masker.

Tekanan dari udara yang mengalir ke lubang hidung dapat membantu menjaga saluran udara tetap terbuka. Sehingga mengurangi gangguan saluran pernapasan pada penderita sleep apnea.

Apabila Anda didiagnosis hipersomnia dan sedang mengonsumsi obat, tanyakan ke dokter apakah obat yang diresepkan memiliki efek samping lain seperti mengantuk.

Lebih baik, kurangi konsumsi obat dengan mencoba tidur lebih banyak di malam hari. Selain itu, tetap menjaga gaya hidup sehat dengan menjauhi alkohol dan kafein agar Anda bisa tidur lebih mudah.

Selama ini orang dengan hipersomnia kerap divonis sebagai “pemalas” karena senantiasa tidur sepanjang hari dari waktu ke waktu. Padahal, faktanya hal ini merupakan gangguan tidur yang harus segera diatasi dan dicari solusi terbaik ke dokter. Semoga informasi yang diberikan bisa bermanfaat untuk mengenal gejala dan penyebab hipersomnia.

Read more

8 Mitos atau Fakta Seputar Masturbasi

Masturbasi adalah kegiatan fisik yang normal. Susan Kellog-Spadt, PhD dari Center for Pelvic Medicine Pennsylvania mengatakan bahwa masturbasi tidak ada bedanya dengan bernapas atau pergi ke kamar kecil.

Namun bagi banyak orang, masturbasi masih memiliki stigma negatif dan tidak ada gunanya.. Beberapa stigma tersebut kadang berubah menjadi mitos yang tidak jelas kebenarannya. Oleh karena itu, mari pelajari fakta dan mitos masturbasi yang banyak beredar di masyarakat..

Mitos Masturbasi #1: Masturbasi Berlebihan Bisa Mengakibatkan Disfungsi Ereksi

Fakta: Dr. Spadt mengatakan bahwa disfungsi ereksi tidak disebabkan oleh masturbasi. Seseorang mungkin bisa menjadi terbiasa dengan sensasi sentuhan tangan sehingga lebih sulit mencapai orgasme saat berhubungan seks dengan pasangan.

Mitos Masturbasi #2: Orang-orang yang Sudah Berpasangan Tidak Bermasturbasi Lagi

Fakta: Ahli seksologi di Philadelphia, Justine Marie Shuey, PhD, mengatakan bahwa baik mereka yang sudah berpasangan atau masih lajang tetap melakukan masturbasi. Karena setiap orang punya kebutuhan seksual yang berbeda-beda, maka masturbasi adalah hal yang sehat dan normal.

Mitos Masturbasi #3: Masturbasi Bukan Bagian Normal dari Perkembangan Seksual

Fakta: Studi yang dipublikasikan Desember 2011 di JAMA Pediatrics mengemukakan bahwa sekitar 800 remaja berusia 14-17 tahun terdiri dari 74% pria dan lebih dari 48% wanita melakukan masturbasi. Setiap individu adalah makhluk seksual sejak lahir hingga tutup usia, jadi masturbasi merupakan hal yang wajar.

Mitos Masturbasi #4: Masturbasi Tidak Memberikan Manfaat Kesehatan

Fakta: Shuey mengungkapkan bahwa masturbasi memiliki serangkaian manfaat kesehatan, termasuk kualitas tidur yang lebih baik, meredakan stres dan rasa tertekan, mengurangi sakit kepala, meningkatkan konsentrasi, percaya diri, dan memberikan penampilan yang lebih muda serta kebugaran tubuh. Ada pula manfaat kesehatan spesifik bagi wanita, terutama yang sudah agak berusia, seperti mengatasi masalah kekeringan vagina dan sakit saat berhubungan seks.

Mitos Masturbasi #5: Anda Bisa Bermasturbasi Secara Berlebihan

Fakta: Masturbasi hanya akan dianggap berlebihan jika sampai mengganggu hubungan dengan pasangan, memengaruhi kesehatan, atau dijadikan pengganti dari pengalaman dunia nyata. Selain itu, jika masturbasi mengakibatkan sakit secara fisik, kendala emosional, masalah dalam hubungan atau kebiasaan, maka Spadt menganjurkan agar kegiatan masturbasi dikurangi. Dia juga mengatakan bahwa hanya segelintir orang yang akan mencapai titik berlebihan tersebut.

Mitos Masturbasi #6: Orang Hanya Bermasturbasi saat Sendirian

Fakta: Beberapa pasangan bisa bermasturbasi bersama dan menjadikannya sebagai bagian dari aktivitas seksual rutin, terang Spadt. Beberapa orang juga menikmati proses saling masturbasi atau melakukan masturbasi untuk mencapai orgasme sebagai salah satu bentuk dari kontak seksual. Masturbasi sesama pasangan adalah cara yang baik untuk mempraktekkan kehidupan seks yang aman dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Mitos Masturbasi #7: Anak-anak Tidak Boleh Bermasturbasi

Fakta: Masturbasi adalah normal dan sehat pada usia berapapun. Shuey menerangkan bahwa walaupun tidak bisa disebut masturbasi sesuai definisi yang kita ketahui, anak kecil juga senang memegang bagian tubuh seperti genital untuk merasakan sensasi yang berbeda. Planned Parenthood menganjurkan agar orangtua mengajarkan kepada anak bahwa menyentuh bagian genital adalah normal untuk kesehatan seksual, hanya saja harus dilakukan secara privasi.

Mitos Masturbasi #8: Masturbasi Akan Membuat Anda ButaFakta: Banyak mitos masturbasi, termasuk membuat buta, muncul karena persepsi bahwa seks hanyalah untuk reproduksi, terang Shuey. Karena masturbasi tidak menghasilkan reproduksi, maka kegiatan ini sering dianggap bermasalah. Banyak juga mitos seks lainnya yang tidak benar, misalnya mengakibatkan kehilangan kewarasan, menyebabkan TBC, kematian, dan sebagainya.

Read more