Apakah Granola Benar-Benar Baik untuk Kesehatan?

Read more

Batuk Anak: Penyebab dan Cara Penanganannya

Ketika anak Anda batuk, tubuh sebenarnya sedang melakukan tugas pertahanannya. Hal ini disebabkan karena batuk adalah refleks yang dilakukan untuk membersihkan cairan dari tenggorokan dan dada. Ini terjadi ketika ujung saraf di saluran udara mengalami gangguan atau infeksi terganggu.

Batuk juga merupakan salah satu gejala yang sering terjadi pada anak dari pilek dan infeksi virus lainnya, termasuk flu. Perhatikan pengobatan yang dipilih jika batuk anak disebabkan oleh virus. Sebab, antibiotik tidak akan mampu melumpuhkannya. Infeksi virus akan diatasi oleh sistem kekebalan tubuh dengan sendirinya.

Penyebab Batuk
Penyebab batuk dapat sangat beragam. Anda dapat menanyakan beberapa pertanyaan pada diri Anda untuk menyimpulkan penyebab batuk pada di kecil, di antaranya


1. Apakah Anak Anda Menunjukkan Gejala Lain?
Batuk yang datang dengan hidung meler dan bersin bisa menandakan anak mengalami pilek. Sedangkan jika diikuti oleh gejala-gejala lain seperti nyeri tubuh dan demam, bisa diperkirakan anak mengalami flu.

2. Kapan Mulai Batuk?
Batuk karena alergi lebih mungkin terjadi pada masa-masa pergantian musim. Perhatikan juga aktivitas dan kegiatan anak-anak, apakah ia bermain di area yang berdebu, kotor, dan banyak asap?

3. Bagaimana Batuk yang Terdengar?
Alergi dan infeksi virus biasanya akan menyebabkan batuk yang menggonggong. Berbeda dengan batuk rejan (pertusis) yang menimbulkan suara yang terdengar seperti “hoop!” Jika anak Anda mengalami batuk rejan, segera hubungi dokter. Selain itu, batuk yang juga perlu ditangani segera oleh dokter adalah batuk dengan suara siulan bernada tinggi karena menandakan pneumonia atau asma.

Bagaimana Jika Batuk Tidak Mereda?
Saat batuk tidak kunjung mereda, segera lakukan pemeriksaan pada dokter. Setidaknya apabila batuk anak sudah terjadi selama 3-4 minggu, segera periksakan ke dokter sebab batuk anak akan dianggap kronis jika berlangsung lebih dari 4 minggu. Berbeda dengan batuk dewasa, yang baru dianggap kronis jika terjadi 8 minggu atau lebih.

Cara Terbaik Mengobati Batuk Dari Pilek atau Flu
Tanyakan kepada dokter Anda sebelum memberikan obat batuk kepada anak. Jangan berikan obat batuk yang dijual bebas kepada anak-anak dengan usia kurang dari 4 tahun. Obat batuk khusus anak yang dijual bebas pun tidak diperuntukkan untuk anak usia di bawah 4 tahun. Pasalnya, obat-obatan ini dapat memiliki efek samping yang serius, seperti mengakibatkan tekanan darah tinggi dan kejang.

Pengobatan Rumahan Batuk

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan batuk yang disebabkan oleh virus, tetapi perawatan tepat dapat meredakan gejala yang mengganggu. Berikut beberapa solusi rumahan yang patut untuk dicoba:

  1. Uap Hangat

Anda dapat membuat ruang uap Anda sendiri. Caranya, tutup pintu kamar mandi Anda dan jalankan air panas di kamar mandi selama beberapa menit sampai kabut tampak di cermin. Temani anak untuk berada di dalam beberapa saat untuk menghirup uap hangat. Uap ini dapat membantu melegakan hidung tersumbat anak Anda.

  1. Beri Kelembapan

Letakkan humidifier dalam kamar anak Anda untuk menambah kelembapan udara. Dengan begitu, saluran pernapasan anak dapat menjadi lebih lancar dan batuk mereda.

  1. Perbanyak Asupan Cairan

Beri anak banyak minuman seperti air atau jus untuk mengencerkan lendir di tenggorokannya. Dengan begitu, anak akan lebih mudah untuk batuk dan mengeluarkan dahak.

  1. Berikan Obat Batuk

Untuk anak-anak di atas usia 5 tahun, obat batuk dan permen tenggorokan dapat meredakan sakit tenggorokan akibat batuk.

Dengan melakukan cara-cara di atas, batuk si kecil perlahan akan mereda sehingga tidur dan aktivitas anak menjadi tidak terganggu. Namun, Anda tetap harus menghubungi dokter jika batuk semakin parah diiringi gejala lain, seperti

  • Susah minum atau makan
  • Membuat suara rejan ketika dia bernapas
  • Demam tinggi
  • Suara mengi saat bernapas
  • Batuk yang bertahan lebih dari sebulan

Selain itu, segera cari bantuan darurat jika anak Anda mengalami

  • Batuk darah
  • Warna bibir, wajah, atau lidah membiru
  • Kesulitan bernapas
Read more

Manfaat Shea Butter untuk Wajah

Shea butter merupakan sejenis lemak alami yang diperoleh dari hasil ekstraksi pohon Shea. Warnanya putih atau kuning gading, dengan tekstur yang lembut, sehingga mudah dioleskan merata di kulit wajah. Bahan produk kecantikan dengan asam lemak dan vitamin ini sangat ideal sebagai kosmetik yang menghaluskan kulit. Kenali 3 karakteristik shea butter berikut ini, yang berguna bagi wajah.

3 Karakteristik Shea Butter

Anda tidak perlu meragukan manfaat shea butter. Sejak lama, masyarakat dunia mengenalnya untuk perawatan kecantikan kulit sehari-hari. Setidaknya, ada 3 karakteristik shea butter yang bisa melindungi kecantikan kulit Anda.

  1. Antiinflamasi
    Shea butter telah terbukti memiliki sifat antiinflamasi. Ruam kemerahan dan bengkak di wajah dapat diatasi dengan mengoleskan shea butter sebagai masker. Asam lemak dan vitamin K dalam shea butter dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka.

  2. Emolien
    Karena kelembapannya, shea butter dapat cepat diserap kulit dan menjadi pelindung alami yang akan mengunci kelembapan wajah. Efeknya dapat bertahan hingga beberapa jam. Tidak seperti pelembap lain yang hanya bertahan 1 jam.
  3. Antipenuaan
    Shea butter memiliki kandungan asam oleat, linoleate, dan stearic yang tinggi. Asam efektif melawan stres, sekaligus menangkal racun radikal bebas yang merusak sel-sel kulit. Kandungan dalam shea butter berguna membantu regenerasi kulit. Jadi, kulit Anda lebih kencang dan tampak awet muda. Vitamin E dalam shea butter juga membantu melindungi kulit dari sinar UV matahari. Meski demikian, Anda tetap perlu menggunakan tabir surya dengan SPF lebih dari 30 untuk memaksimalkan perlindungan kulit.

Cara Menggunakan Shea Butter untuk Wajah

Anda bisa membeli produk berbahan shea butter di apotek, toko kesehatan atau online shop. Cara termudah untuk menggunakan shea butter adalah mengoleskannya langsung ke wajah sebelum tidur di malam hari. Pakai shea butter sebagai perawatan kulit wajah secara teratur. Anda juga bisa menggunakannya sebagai masker. Jangan lupa untuk membersihkan wajah terlebih dahulu dengan sabun muka, atau membasuhnya dengan air hangat. Ikuti langkah-langkah berikut ini untuk membuat masker shea butter di rumah.

Bahan:

  • 1 sendok madu
  • 3 tetes minyak biji anggur
  • 1 sendok shea butter

Cara membuat:

  • Aduk semua bahan di atas hingga merata
  • Oleskan ke wajah secara merata
  • Diamkan selama 10-12 menit
  • Bersihkan wajah dengan air hangat dan keringkan dengan kain bersih dengan cara ditepuk-tepuk
Read more

Tips Perawatan dan Pengobatan Rumahan untuk Anak Sakit

Saat anak sakit, para orangtua tentu akan sangat khawatir melihat berbagai gejala yang dirasakan si kecil. Akan tetapi, ada beberapa penyakit yang pengobatannya lebih dianjurkan untuk dilakukan di rumah. Agar tidak salah dalam melakukan perawatan rumah untuk si kecil, simak beberapa tips perawatan dan pengobatan rumahan untuk anak sakit berikut.

1. Perbanyak Istirahat
Pilek dan batuk kerap terjadi karena infeksi virus yang ditularkan saat anak sekolah. Sama seperti orang dewasa, anak yang terinfeksi virus tidak membutuhkan asupan obat khusus karena tubuhnya dapat dengan sendirinya melawan dan mematikan virus yang menginfeksi. Akan tetapi, agar tubuh semakin kuat, dibutuhkan energi yang lebih sehingga penting bagi anak untuk banyak tidur dan istirahat saat sakit. Batasi aktivitas yang memakan banyak energi dan ajaklah anak untuk tidur dan bermain dengan tenang.

2. Perbanyak Asupan Cairan
Selain istirahat yang cukup, anak juga memerlukan asupan cairan tubuh yang banyak untuk membuatnya tetap terhidrasi. Jika anak Anda sudah berusia lebih dari 6 bulan, beragam makanan lembut dengan kandungan air tinggi dapat Anda berikan. Termasuk juga sup ayam yang memang dapat meredakan gejala demam, pilek, dan batuk.

3. Kenali Demam atau Flu?
Gejala yang muncul pada demam dan flu pada anak memang sulit untuk dibedakan. Namun, secara umum, gejala flu pada anak Anda akan tampak lebih buruk dan parah. Biasanya akan muncul tanda seperti kelelahan, meriang, nyeri otot, sakit kepala, dan demam tinggi. Jika anak mungkin terserang flu, segera hubungi dokter untuk penanganan yang tepat dan cepat. Dokter biasanya akan meresepkan obat yang memang aman untuk anak dan dapat meredakan gejala.

4. Pereda Demam
Demam adalah bentuk dari cara tubuh melawan infeksi virus. Namun, anak yang mengalami demam biasanya akan menjadi lebih rewel dan manja. Jika anak Anda mengalami demam, pastikan untuk membuatnya menjadi lebih nyaman dengan pakaian tipis dan ruangan yang sejuk. Letakkan kain kompres dingin di dahi dan lehernya.

5. Anak-Anak dan Obat Pilek
Untuk anak-anak yang mengalami pilek dan batuk, pastikan untuk tidak sembarangan memberinya obat-obatan yang dijual bebas (sekalipun dengan obat yang dikhususkan untuk anak). Selalu konsultasikan pada dokter agar mendapatkan arahan yang tepat untuk pengobatan rumahan yang aman.

6. Melegakan Hidung Tersumbat
Jika hidung anak Anda tersumbat, Anda dapat mengencerkan lendir dengan memberikan tiga tetes air hangat atau garam di setiap lubang hidung. Setelah itu, tunggu sebentar sebelum Anda menghisapnya kembali bersama lendir di dalamnya. Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengurangi susah napas saat hidung tersumbat adalah dengan menaikkan posisi kepala tempat tidur anak sehingga kepala menjadi lebih tinggi.

7. Menenangkan Sakit Tenggorokan
Makanan dan minuman yang hangat dan dingin akan sangat membantu mengatasi sakit pada tenggorokan. Milkshake, minuman dingin, dan ice pops dapat membasahi tenggorokan yang kering dan perih. Sedangkan kaldu hangat pada sup ayam, teh, atau sari apel panas juga berkhasiat untuk menenangkannya. Namun, jika anak Anda sudah berusia 8 tahun atau lebih, berkumur dengan air garam hangat dua kali sehari dapat membantunya merasa lebih baik.

8. Meredakan Batuk
Perawatan batuk pada anak dapat dilakukan dengan beragam cara berdasarkan jenis batuk dan usia anak. Untuk batuk yang benar-benar tidak nyaman dan mengganggu tidur membutuhkan perhatian yang lebih.

  • Anak-anak usia antara 6 bulan dan 1 tahun: Berikan minuman hangat seperti jus apel atau jeruk hangat.
  • Anak-anak usia lebih dari 1 tahun: Air teh dan madu hangat dapat membantu mengatasi batuk malam hari.
  • Anak-anak usia 6 tahun atau lebih: Berikan obat batuk anak atau permen tenggorokan.

9. Berikan Makanan Ringan
Siapa bilang anak sakit tidak boleh memakan makanan ringan? Anda dapat memberikan tambahan energi dan asupan nutrisi melalui berbagai makanan ringan sehat seperti saus apel, oatmeal, kentang tumbuk, agar-agar, puding, dan yogurt.

10. Masalah Perut
Anak-anak yang terkena flu terkadang mengalami sakit perut dengan keluhan muntah atau diare. Jika ini terjadi pada anak Anda, harap perhatikan karena ia sedang kehilangan cairan tubuh. Jadi mintalah ia untuk minum sejumlah kecil larutan elektrolit dan perbanyak minum air putih. Namun, jika anak Anda mengalami diare yang tidak dehidrasi atau muntah, maka ia dapat terus makan. Berikanlah ia porsi yang lebih kecil dengan kandungan cairan lebih banyak.

11. Percaya Insting Anda
Segeralah untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda khawatir pada gejala anak yang semakin memburuk. Amati nyeri dada atau perut, sesak napas, sakit kepala, kelelahan yang tidak biasa, atau nyeri wajah dan tenggorokan yang semakin memburuk. Beri tahu dokter Anda jika anak Anda demam 39° C atau lebih selama 72 jam lebih. Selain itu, kondisi anak yang mengalami kesulitan menelan, batuk banyak lendir, atau memiliki kelenjar bengkak dan sakit telinga juga harus segera ditangani dokter.

Read more

Wajib Tahu, Ini Dia Cara Perawatan HIV Sebagai Tindak Pencegahan

Meskipun obat untuk menyembuhkan HIV masih belum ditemukan, bukan berarti para pengidap HIV akan kehilangan harapan untuk dapat hidup dengan normal. Pasalnya, apabila dapat konsisten dan disiplin menjalani perawatan yang tepat, pengidap HIV dapat hidup berdampingan dengan orang-orang pada umumnya. Namun dengan catatan, para pengidap HIV harus taat dalam minum obat HIV setiap hari sesuai dengan ketentuan dokter sehingga tubuhnya dapat bekerja dengan baik untuk mempertahankan viral load yang tak terdeteksi secara efektif. Selain itu, pengidap juga harus memahami risiko penularan HIV secara seksual ke pasangan HIV-negatifnya. Aturan-aturan ini dapat dikatakan sebagai mekanisme pengobatan sekaligus pencegahan dari penularan virus itu sendiri.

Perawatan HIV Sebagai Langkah Pencegahan

Sebuah penelitian besar pada obat HIV terkini menunjukkan bahwa pengobatan dapat menjadi langkah pencegahan. Studi-studi ini memantau ribuan pasangan pria-wanita dan pria-pria di mana satu pasangan memiliki HIV dan yang lainnya tidak selama beberapa tahun. Tidak ada transmisi HIV yang terdeteksi ketika pengobatan HIV-positif dilakukan pada penekanan viral load. Ini menunjukkan bahwa jika Anda menjaga viral load tidak terdeteksi, secara efektif tidak ada risiko penularan HIV kepada pasangan meskipun dengan melakukan hubungan seks vaginal, anal, atau oral.

Patuhi Aturan Obat HIV agar Tetap Sehat dan Mencegah Penularan

Jika Anda memiliki HIV atau mengenal orang dengan HIV, penting untuk segera memulai terapi antiretroviral atau ART setelah dokter menyatakan diagnosis positif HIV. Jangan sepelekan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Pasalnya, obat-obatan yang diberikan setiap hari, berguna untuk mengurangi jumlah HIV dalam darah (viral load) ke tingkat yang sangat rendah. Upaya penekanan virus ini dilakukan untuk dapat membantu Anda agar tetap sehat dan mencegah penyakit.

Dalam hal ini, viral load akan dinyatakan sangat rendah saat tidak muncul dalam tes laboratorium standar. Kondisi ini disebut memiliki viral load yang tidak terdeteksi. Para pengidap HIV dapat menurunkan atau mempertahankan viral load menjadi tidak terdeteksi dengan mengonsumsi obat HIV setiap hari, persis seperti yang ditentukan oleh dokter. Biasanya kondisi ini dapat dicapai dalam 6 bulan setelah memulai pengobatan. Dengan begitu, pengidap dapat hidup sehat dan bertahan jauh lebih lama.

Manfaat lain dari penekanan viral load ini adalah para pengidap yang rutin dan konsisten minum obat HIV setiap hari seperti yang ditentukan tidak memiliki risiko penularan HIV secara seksual ke pasangan HIV-negatifnya. Ini merupakan langkah yang disebut pengobatan sebagai langkah pencegahan, yaitu penggunaan obat HIV untuk mencegah penularan HIV secara seksual.

Penekanan viral load ini sangat penting untuk diperhatikan oleh para pengidap karena dapat memberikan manfaat, diantaranya untuk mengurangi risiko penularan HIV ibu-ke-anak dari kehamilan, persalinan, dan menyusui. Jika seorang wanita yang hidup dengan HIV dapat konsisten mengonsumsi obat HIV seperti yang ditentukan selama kehamilan, persalinan, dan menyusui, ditambah dengan pemberian obat HIV kepada bayinya selama 4-6 minggu setelah dilahirkan, risiko penularan dari kehamilan, persalinan, dan persalinan dapat dikurangi.

Konsultasikan dengan Dokter HIV Anda

Bicaralah dengan dokter Anda tentang manfaat pengobatan HIV dan obat HIV mana yang tepat untuk Anda. Diskusikan seberapa sering Anda harus memeriksakan viral load Anda untuk memastikan viral load tetap tidak terdeteksi.

Namun, apabila hasil laboratorium Anda menunjukkan bahwa virus tersebut dapat dideteksi atau jika Anda mengalami kesulitan mengonsumsi setiap dosis obat yang diresepkan, Anda masih dapat melindungi pasangan dari penularan HIV dengan menggunakan metode lain untuk mencegah penularan HIV secara seksual. Beberapa cara di antaranya adalah dengan menggunakan kondom, melakukan hubungan seks yang lebih aman, dan/atau pemberian pre-exposure prophylaxi (PrPP) untuk pasangan yang HIV-negatif sampai viral load Anda tidak terdeteksi lagi.


Bicarakan dengan Pasangan Anda

Pengobatan sebagai upaya pencegahan dapat dilakukan sendiri atau bersama dengan pasangan untuk memaksimalkan pengamanan. Itulah sebabnya, penting bagi Anda untuk membicarakan tentang status HIV Anda dengan pasangan seksual. Selanjutnya, putuskan bersama metode pencegahan mana yang akan dilakukan demi kebaikan bersama. Itulah beberapa hal penting seputar upaya pengobatan yang juga dapat menjadi cara pencegahan penularan HIV. Semoga informasi ini bermanfaat, khususnya bagi Anda para pengidap atau hidup bersama pengidap.

Read more

Sebelum Kembali Sekolah, Pahami Pemulihan Flu dan Pilek pada Anak

Saat anak terserang pilek atau flu, para orangtua tentu ingin si kecil pulih seutuhnya sebelum kembali beraktivitas di sekolah. Sayangnya, pemulihan untuk infeksi virus ini terkadang cukup rumit. Meskipun flu dan pilek adalah penyakit biasa, ada banyak hal yang perlu Anda perhatikan dalam penyembuhan dan pemulihannya sebelum akhirnya si kecil dapat kembali bersekolah.

Secara umum, flu dan pilek dapat sembuh setelah 7-10 hari sejak gejala pertama kali dirasakan. Namun, durasi ini dapat berubah tergantung pada keparahan dan banyak gejala lain yang dirasakan anak.

Jadi, kapan anak Anda dapat dinyatakan benar-benar sembuh dan pulih agar bisa kembali bermain dan bersekolah? Panduan ini dapat membantu Anda memutuskannya.

Kapan Anak Dapat Kembali ke Sekolah Setelah Flu dan Pilek?

Secara umum, anak-anak dapat segera kembali ke rutinitas mereka yang biasa jika demam tidak lebih dari 37 derajat dan tidak mengalami muntah atau diare selama 24 jam. Akan tetapi, Anda harus memastikan bahwa si kecil pulih tanpa bantuan obat penurun gejala. Pasalnya, pemberian obat dapat menghilangkan gejala tanpa membunuh virus itu sendiri.

Selain itu, sebelum menyuruhnya kembali bermain dan sekolah, pastikan anak Anda sudah mendapatkan asupan minum dan buang air kecil dalam jumlah normal. Hal ini penting untuk mengetahui bahwa ia sudah terhidrasi dengan baik. Perhatikan pula gejala lain, seperti batuk, dapat dikendalikan sehingga tidak mengalihkan perhatiannya dari kelas.

Meskipun begitu, jangan sepelekan insting Anda sebagai orangtua. Jika Anda melihatnya masih belum seutuhnya pulih, biarkan ia beristirahat lagi di rumah hingga Anda benar-benar yakin.

Kapan Anak Dapat Bermain Bersama Teman-Temannya?
Flu pada anak-anak sangat mudah menular, meskipun saat baru terinfeksi atau saat masa penyembuhan. Itulah sebabnya, pastikan anak Anda benar-benar dalam keadaan sembuh dan pulih sebelum kembali bermain dengan teman-temannya. Tambahkan waktu istirahat dari bermain dengan teman selama 5-7 hari agar tidak menularkan virusnya. Tambahkan waktu istirahat jika anak Anda tampak memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

Gejala pilek biasanya muncul 1 hingga 3 hari setelah anak Anda terinfeksi virus. Hari-hari pertama munculnya gejala pilek, batuk, dan bersin adalah saat yang paling mungkin untuk menularkan virus pada anak lain. Meskipun begitu, Anda tetap perlu menjauhkannya dari teman-temannya selama 4-5 hari setelah itu, karena faktanya, virus pilek dan flu dapat bertahan hingga 3 minggu. Maka, berhati-hatilah membiarkan anak yang sedang flu atau pilek berada di sekitar bayi dan anak-anak yang lebih kecil.

Kapan Anak Dapat Kembali Berolahraga?
Kebanyakan anak-anak dan remaja yang terkena pilek dan flu ingin segera kembali beraktivitas seperti biasa, khususnya mereka yang sangat aktif dengan kegiatan fisik seperti olahraga. Sayangnya, mereka tidak dapat melakukannya dengan tubuh yang demam. Apalagi berlari atau bermain dapat memperburuk gejala seperti batuk.

Untuk dapat kembali pada aktivitas fisik seperti olahraga, anak Anda harus benar-benar bebas dari gejala selama sekitar 48-72 jam. Ia juga harus makan dan minum dengan cukup baik sehingga memiliki energi yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas fisik berat.

Kapan Anak Dapat Menginap Bersama Teman-Teman?
Tidak hanya aktivitas fisik seperti olahraga yang perlu ditunda sementara, kegiatan santai seperti menginap dengan teman-teman juga perlu Anda batasi. Sebab, menginap bersama teman akan menghabiskan waktu istirahat untuk bermain hingga tidur larut. Selain itu, yang terpenting, Anda tentu tidak ingin anak Anda berada dekat dengan teman-temannya selama berjam-jam dan menyebarkan virus ke anak-anak lain.
           

Itulah beberapa hal yang perlu Anda pahami saat masa pemulihan flu dan pilek pada anak. Jika ragu apakah anak Anda masih sakit atau sudah cukup sehat, pastikan untuk selalu percaya pada perasaan Anda. Menghadapi virus flu memang tidak sesulit itu. Namun, Anda pemulihannya juga membutuhkan waktu agar virus penyebab pilek atau flu benar-benar lenyap. Ingat, beberapa virus mampu bertahan lebih lama dari yang lain.

Read more

Depresi Saat Hamil Pengaruhi Pubertas Anak Perempuan

Momen pubertas pada anak perempuan tentu sebuah hal yang begitu penuh dinamika. Pubertas dianggap menandai dewasanya seorang anak perempuan, yang beranjak menjadi gadis. Kapan seorang gadis mengalami pubertas? Bervariasi, mulai dari usia SD, SMP, bahkan SMA.

Namun menariknya, ada sebuah fakta dari riset dua peneliti di Selandia Baru. Mereka menarik korelasi antara pubertas yang datang lebih awal dengan tingkat depresi seorang ibu. Para peneliti melibatkan 87 anak perempuan sebagai responden. Sebanyak 67 di antaranya memiliki ibu dengan masalah dalam mengelola mood.

Masalah yang dialami ibu dengan depresi ini tentu tak hanya terjadi saat anak sudah beranjak remaja. Depresi saat hamil juga menjadi hal yang bisa menyebabkan pubertas anak perempuan jadi lebih cepat. Seperti apa korelasinya? Penelitian di atas memberikan jawabannya.

Dampak Depresi Berkepanjangan Ibu terhadap Anak Perempuan

Salah satu penelitinya, Bruce J. Ellis, PhD, pengajar psikologi di University of Canterbury Selandia Baru menyimpulkan, disfungsi atau kondisi yang kurang harmonis dalam keluarga atau pernikahan orangtua, bisa memicu pubertas yang datang lebih awal bagi seorang anak gadis.

Beberapa faktor di luar aspek genetik seperti konflik keluarga, perceraian, pernikahan kedua, dan depresi yang dialami ibu, bisa menjadi pemicunya. Jika depresi telah terjadi sejak masa kehamilan hingga anak beranjak remaja, artinya kondisi ini sudah ada berlangsung selama bertahun-tahun tanpa ada solusi yang efektif.

Pernyataan serupa tentang penelitian tersebut pun datang dari  Hadine Joffe, MD, direktur Women’s Center for Behavior Endocrinology di Harvard Medical School Amerika Serikat.

Depresi Ganggu Hubungan Ibu dan Anak


Ketika seorang anak gadis memiliki ibu yang masih berusaha mengelola emosi dan depresi, ia tak akan memiliki sosok yang bisa dijadikan tempat bercerita. Padahal, seorang anak gadis tentu punya berjuta pertanyaan ketika beranjak dewasa.

Kondisi ini sebenarnya begitu krusial bagi perkembangan seorang anak perempuan. Masalah yang terjadi hanya pada seorang ibu bisa berimbas pada seluruh keluarga. Dengan demikian, tak ada salahnya mengundang seorang terapis atau psikiater untuk menjadi mediator. Kehadirannya bisa membantu mempertahankan hubungan dan ikatan antara ibu dan anak.

Jangan Sepelekan Depresi Seorang Ibu

Entah itu terjadi di masa kehamilan, usai melahirkan (post-partum depression), atau ketika anak telah beranjak remaja, depresi adalah hal yang tak boleh disepelekan. Memang, masalah mental dan emosional adalah hal yang tak kasat mata dan terkesan tidak ada urgensinya.

Namun faktanya, depresi bisa membuat seseorang begitu lelah dan sama berbahayanya seperti penyakit yang mengancam nyawa. Terlebih, dengan adanya penelitian ini, terlihat bahwa depresi yang dialami seorang ibu, bisa berdampak pada anak perempuan.

Baik ibu maupun anak perempuan, keduanya sama-sama berhak untuk menjalani hidup ini dengan semestinya, tanpa ada gangguan emosional seperti rasa depresi. Selain itu, pubertas yang terjadi lebih awal juga perlu mendapatkan perhatian khusus.

Memang, ada banyak faktor genetik yang juga bisa memengaruhi pubertas dini pada seorang gadis. Namun lagi-lagi, depresi tak bisa disepelekan. Hasil dari penelitian ini menjadi dasar untuk keputusan-keputusan klinis untuk mengatasi masalah mental.

Read more

Hipersomnia: Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatannya

Hipersomnia merupakan gangguan tidur yang menimbulkan rasa kantuk berlebihan di siang hari. Tidak jarang, penderita Hipersomnia akan tidur seharian atau sulit terjaga sepanjang hari.

Orang yang mengidap Hipersomnia dapat tertidur kapan saja dan di mana saja. Misalnya, seperti di kantor atau bahkan saat mereka sedang mengemudi. Tentunya, hal ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan sangat berbahaya bagi keselamatan.

Penyebab Hipersomnia

Ada beberapa penyebab Hipersomnia, di antaranya:

  1. Gangguan tidur narcolepsy (kantuk di siang hari) dan sleep apnea (gangguan pernapasan saat tidur).
  2. Kurang tidur di malam hari
  3. Kelebihan berat badan
  4. Konsumsi obat-obatan atau alkohol
  5. Cedera kepala atau penyakit neurologis, seperti penyakit Parkinson.
  6. Riwayat genetika (memiliki keluarga yang hipersomnia)
  7. Depresi

Cara Mendiagnosis Hipersomnia

Apakah Anda terkena hipersomnia? Untuk mengidentifikasi gangguan tidur ini, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter Anda.

Dokter akan menanyakan bagaimana kebiasaan tidur Anda? Berapa lama waktu tidur Anda di malam hari? Apakah Anda sering terjaga di malam hari dan siangnya merasa sangat mengantuk?

Dokter juga akan menanyakan tentang masalah emosional atau mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menimbulkan masalah gangguan tidur.

Selain itu, dokter juga mungkin meminta Anda untuk tes darah, CT scan, dan tes tidur yang disebut polysomnography.

Pengobatan Hipersomnia

Setelah mengetahui gejala-gejala hipersomnia, lalu bagaimana cara mengobatinya? Dokter akan meresepkan berbagai obat yang tepat. Di antaranya seperti stimulan, antidepresan, serta beberapa obat baru (misalnya, Provigil dan Xyrem).

Sedangkan, bagi para penderita gangguan tidur yang didiagnosis sleep apnea, dokter akan meresepkan pengobatan yang dikenal sebagai CPAP atau tekanan saluran udara positif terus-menerus.

Dengan CPAP, penderita akan diminta menggunakan masker di hidung saat tidur. Sementara itu, mesin CPAP akan mengalirkan udara secara terus-menerus melalui selang yang dimasukkan ke lubang hidung dan terhubung dengan masker.

Tekanan dari udara yang mengalir ke lubang hidung dapat membantu menjaga saluran udara tetap terbuka. Sehingga mengurangi gangguan saluran pernapasan pada penderita sleep apnea.

Apabila Anda didiagnosis hipersomnia dan sedang mengonsumsi obat, tanyakan ke dokter apakah obat yang diresepkan memiliki efek samping lain seperti mengantuk.

Lebih baik, kurangi konsumsi obat dengan mencoba tidur lebih banyak di malam hari. Selain itu, tetap menjaga gaya hidup sehat dengan menjauhi alkohol dan kafein agar Anda bisa tidur lebih mudah.

Selama ini orang dengan hipersomnia kerap divonis sebagai “pemalas” karena senantiasa tidur sepanjang hari dari waktu ke waktu. Padahal, faktanya hal ini merupakan gangguan tidur yang harus segera diatasi dan dicari solusi terbaik ke dokter. Semoga informasi yang diberikan bisa bermanfaat untuk mengenal gejala dan penyebab hipersomnia.

Read more

8 Mitos atau Fakta Seputar Masturbasi

Masturbasi adalah kegiatan fisik yang normal. Susan Kellog-Spadt, PhD dari Center for Pelvic Medicine Pennsylvania mengatakan bahwa masturbasi tidak ada bedanya dengan bernapas atau pergi ke kamar kecil.

Namun bagi banyak orang, masturbasi masih memiliki stigma negatif dan tidak ada gunanya.. Beberapa stigma tersebut kadang berubah menjadi mitos yang tidak jelas kebenarannya. Oleh karena itu, mari pelajari fakta dan mitos masturbasi yang banyak beredar di masyarakat..

Mitos Masturbasi #1: Masturbasi Berlebihan Bisa Mengakibatkan Disfungsi Ereksi

Fakta: Dr. Spadt mengatakan bahwa disfungsi ereksi tidak disebabkan oleh masturbasi. Seseorang mungkin bisa menjadi terbiasa dengan sensasi sentuhan tangan sehingga lebih sulit mencapai orgasme saat berhubungan seks dengan pasangan.

Mitos Masturbasi #2: Orang-orang yang Sudah Berpasangan Tidak Bermasturbasi Lagi

Fakta: Ahli seksologi di Philadelphia, Justine Marie Shuey, PhD, mengatakan bahwa baik mereka yang sudah berpasangan atau masih lajang tetap melakukan masturbasi. Karena setiap orang punya kebutuhan seksual yang berbeda-beda, maka masturbasi adalah hal yang sehat dan normal.

Mitos Masturbasi #3: Masturbasi Bukan Bagian Normal dari Perkembangan Seksual

Fakta: Studi yang dipublikasikan Desember 2011 di JAMA Pediatrics mengemukakan bahwa sekitar 800 remaja berusia 14-17 tahun terdiri dari 74% pria dan lebih dari 48% wanita melakukan masturbasi. Setiap individu adalah makhluk seksual sejak lahir hingga tutup usia, jadi masturbasi merupakan hal yang wajar.

Mitos Masturbasi #4: Masturbasi Tidak Memberikan Manfaat Kesehatan

Fakta: Shuey mengungkapkan bahwa masturbasi memiliki serangkaian manfaat kesehatan, termasuk kualitas tidur yang lebih baik, meredakan stres dan rasa tertekan, mengurangi sakit kepala, meningkatkan konsentrasi, percaya diri, dan memberikan penampilan yang lebih muda serta kebugaran tubuh. Ada pula manfaat kesehatan spesifik bagi wanita, terutama yang sudah agak berusia, seperti mengatasi masalah kekeringan vagina dan sakit saat berhubungan seks.

Mitos Masturbasi #5: Anda Bisa Bermasturbasi Secara Berlebihan

Fakta: Masturbasi hanya akan dianggap berlebihan jika sampai mengganggu hubungan dengan pasangan, memengaruhi kesehatan, atau dijadikan pengganti dari pengalaman dunia nyata. Selain itu, jika masturbasi mengakibatkan sakit secara fisik, kendala emosional, masalah dalam hubungan atau kebiasaan, maka Spadt menganjurkan agar kegiatan masturbasi dikurangi. Dia juga mengatakan bahwa hanya segelintir orang yang akan mencapai titik berlebihan tersebut.

Mitos Masturbasi #6: Orang Hanya Bermasturbasi saat Sendirian

Fakta: Beberapa pasangan bisa bermasturbasi bersama dan menjadikannya sebagai bagian dari aktivitas seksual rutin, terang Spadt. Beberapa orang juga menikmati proses saling masturbasi atau melakukan masturbasi untuk mencapai orgasme sebagai salah satu bentuk dari kontak seksual. Masturbasi sesama pasangan adalah cara yang baik untuk mempraktekkan kehidupan seks yang aman dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Mitos Masturbasi #7: Anak-anak Tidak Boleh Bermasturbasi

Fakta: Masturbasi adalah normal dan sehat pada usia berapapun. Shuey menerangkan bahwa walaupun tidak bisa disebut masturbasi sesuai definisi yang kita ketahui, anak kecil juga senang memegang bagian tubuh seperti genital untuk merasakan sensasi yang berbeda. Planned Parenthood menganjurkan agar orangtua mengajarkan kepada anak bahwa menyentuh bagian genital adalah normal untuk kesehatan seksual, hanya saja harus dilakukan secara privasi.

Mitos Masturbasi #8: Masturbasi Akan Membuat Anda ButaFakta: Banyak mitos masturbasi, termasuk membuat buta, muncul karena persepsi bahwa seks hanyalah untuk reproduksi, terang Shuey. Karena masturbasi tidak menghasilkan reproduksi, maka kegiatan ini sering dianggap bermasalah. Banyak juga mitos seks lainnya yang tidak benar, misalnya mengakibatkan kehilangan kewarasan, menyebabkan TBC, kematian, dan sebagainya.

Read more