anak tagged posts

Sebelum Kembali Sekolah, Pahami Pemulihan Flu dan Pilek pada Anak

Saat anak terserang pilek atau flu, para orangtua tentu ingin si kecil pulih seutuhnya sebelum kembali beraktivitas di sekolah. Sayangnya, pemulihan untuk infeksi virus ini terkadang cukup rumit. Meskipun flu dan pilek adalah penyakit biasa, ada banyak hal yang perlu Anda perhatikan dalam penyembuhan dan pemulihannya sebelum akhirnya si kecil dapat kembali bersekolah.

Secara umum, flu dan pilek dapat sembuh setelah 7-10 hari sejak gejala pertama kali dirasakan. Namun, durasi ini dapat berubah tergantung pada keparahan dan banyak gejala lain yang dirasakan anak.

Jadi, kapan anak Anda dapat dinyatakan benar-benar sembuh dan pulih agar bisa kembali bermain dan bersekolah? Panduan ini dapat membantu Anda memutuskannya.

Kapan Anak Dapat Kembali ke Sekolah Setelah Flu dan Pilek?

Secara umum, anak-anak dapat segera kembali ke rutinitas mereka yang biasa jika demam tidak lebih dari 37 derajat dan tidak mengalami muntah atau diare selama 24 jam. Akan tetapi, Anda harus memastikan bahwa si kecil pulih tanpa bantuan obat penurun gejala. Pasalnya, pemberian obat dapat menghilangkan gejala tanpa membunuh virus itu sendiri.

Selain itu, sebelum menyuruhnya kembali bermain dan sekolah, pastikan anak Anda sudah mendapatkan asupan minum dan buang air kecil dalam jumlah normal. Hal ini penting untuk mengetahui bahwa ia sudah terhidrasi dengan baik. Perhatikan pula gejala lain, seperti batuk, dapat dikendalikan sehingga tidak mengalihkan perhatiannya dari kelas.

Meskipun begitu, jangan sepelekan insting Anda sebagai orangtua. Jika Anda melihatnya masih belum seutuhnya pulih, biarkan ia beristirahat lagi di rumah hingga Anda benar-benar yakin.

Kapan Anak Dapat Bermain Bersama Teman-Temannya?
Flu pada anak-anak sangat mudah menular, meskipun saat baru terinfeksi atau saat masa penyembuhan. Itulah sebabnya, pastikan anak Anda benar-benar dalam keadaan sembuh dan pulih sebelum kembali bermain dengan teman-temannya. Tambahkan waktu istirahat dari bermain dengan teman selama 5-7 hari agar tidak menularkan virusnya. Tambahkan waktu istirahat jika anak Anda tampak memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

Gejala pilek biasanya muncul 1 hingga 3 hari setelah anak Anda terinfeksi virus. Hari-hari pertama munculnya gejala pilek, batuk, dan bersin adalah saat yang paling mungkin untuk menularkan virus pada anak lain. Meskipun begitu, Anda tetap perlu menjauhkannya dari teman-temannya selama 4-5 hari setelah itu, karena faktanya, virus pilek dan flu dapat bertahan hingga 3 minggu. Maka, berhati-hatilah membiarkan anak yang sedang flu atau pilek berada di sekitar bayi dan anak-anak yang lebih kecil.

Kapan Anak Dapat Kembali Berolahraga?
Kebanyakan anak-anak dan remaja yang terkena pilek dan flu ingin segera kembali beraktivitas seperti biasa, khususnya mereka yang sangat aktif dengan kegiatan fisik seperti olahraga. Sayangnya, mereka tidak dapat melakukannya dengan tubuh yang demam. Apalagi berlari atau bermain dapat memperburuk gejala seperti batuk.

Untuk dapat kembali pada aktivitas fisik seperti olahraga, anak Anda harus benar-benar bebas dari gejala selama sekitar 48-72 jam. Ia juga harus makan dan minum dengan cukup baik sehingga memiliki energi yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas fisik berat.

Kapan Anak Dapat Menginap Bersama Teman-Teman?
Tidak hanya aktivitas fisik seperti olahraga yang perlu ditunda sementara, kegiatan santai seperti menginap dengan teman-teman juga perlu Anda batasi. Sebab, menginap bersama teman akan menghabiskan waktu istirahat untuk bermain hingga tidur larut. Selain itu, yang terpenting, Anda tentu tidak ingin anak Anda berada dekat dengan teman-temannya selama berjam-jam dan menyebarkan virus ke anak-anak lain.
           

Itulah beberapa hal yang perlu Anda pahami saat masa pemulihan flu dan pilek pada anak. Jika ragu apakah anak Anda masih sakit atau sudah cukup sehat, pastikan untuk selalu percaya pada perasaan Anda. Menghadapi virus flu memang tidak sesulit itu. Namun, Anda pemulihannya juga membutuhkan waktu agar virus penyebab pilek atau flu benar-benar lenyap. Ingat, beberapa virus mampu bertahan lebih lama dari yang lain.

Read more

Depresi Saat Hamil Pengaruhi Pubertas Anak Perempuan

Momen pubertas pada anak perempuan tentu sebuah hal yang begitu penuh dinamika. Pubertas dianggap menandai dewasanya seorang anak perempuan, yang beranjak menjadi gadis. Kapan seorang gadis mengalami pubertas? Bervariasi, mulai dari usia SD, SMP, bahkan SMA.

Namun menariknya, ada sebuah fakta dari riset dua peneliti di Selandia Baru. Mereka menarik korelasi antara pubertas yang datang lebih awal dengan tingkat depresi seorang ibu. Para peneliti melibatkan 87 anak perempuan sebagai responden. Sebanyak 67 di antaranya memiliki ibu dengan masalah dalam mengelola mood.

Masalah yang dialami ibu dengan depresi ini tentu tak hanya terjadi saat anak sudah beranjak remaja. Depresi saat hamil juga menjadi hal yang bisa menyebabkan pubertas anak perempuan jadi lebih cepat. Seperti apa korelasinya? Penelitian di atas memberikan jawabannya.

Dampak Depresi Berkepanjangan Ibu terhadap Anak Perempuan

Salah satu penelitinya, Bruce J. Ellis, PhD, pengajar psikologi di University of Canterbury Selandia Baru menyimpulkan, disfungsi atau kondisi yang kurang harmonis dalam keluarga atau pernikahan orangtua, bisa memicu pubertas yang datang lebih awal bagi seorang anak gadis.

Beberapa faktor di luar aspek genetik seperti konflik keluarga, perceraian, pernikahan kedua, dan depresi yang dialami ibu, bisa menjadi pemicunya. Jika depresi telah terjadi sejak masa kehamilan hingga anak beranjak remaja, artinya kondisi ini sudah ada berlangsung selama bertahun-tahun tanpa ada solusi yang efektif.

Pernyataan serupa tentang penelitian tersebut pun datang dari  Hadine Joffe, MD, direktur Women’s Center for Behavior Endocrinology di Harvard Medical School Amerika Serikat.

Depresi Ganggu Hubungan Ibu dan Anak


Ketika seorang anak gadis memiliki ibu yang masih berusaha mengelola emosi dan depresi, ia tak akan memiliki sosok yang bisa dijadikan tempat bercerita. Padahal, seorang anak gadis tentu punya berjuta pertanyaan ketika beranjak dewasa.

Kondisi ini sebenarnya begitu krusial bagi perkembangan seorang anak perempuan. Masalah yang terjadi hanya pada seorang ibu bisa berimbas pada seluruh keluarga. Dengan demikian, tak ada salahnya mengundang seorang terapis atau psikiater untuk menjadi mediator. Kehadirannya bisa membantu mempertahankan hubungan dan ikatan antara ibu dan anak.

Jangan Sepelekan Depresi Seorang Ibu

Entah itu terjadi di masa kehamilan, usai melahirkan (post-partum depression), atau ketika anak telah beranjak remaja, depresi adalah hal yang tak boleh disepelekan. Memang, masalah mental dan emosional adalah hal yang tak kasat mata dan terkesan tidak ada urgensinya.

Namun faktanya, depresi bisa membuat seseorang begitu lelah dan sama berbahayanya seperti penyakit yang mengancam nyawa. Terlebih, dengan adanya penelitian ini, terlihat bahwa depresi yang dialami seorang ibu, bisa berdampak pada anak perempuan.

Baik ibu maupun anak perempuan, keduanya sama-sama berhak untuk menjalani hidup ini dengan semestinya, tanpa ada gangguan emosional seperti rasa depresi. Selain itu, pubertas yang terjadi lebih awal juga perlu mendapatkan perhatian khusus.

Memang, ada banyak faktor genetik yang juga bisa memengaruhi pubertas dini pada seorang gadis. Namun lagi-lagi, depresi tak bisa disepelekan. Hasil dari penelitian ini menjadi dasar untuk keputusan-keputusan klinis untuk mengatasi masalah mental.

Read more