kehamilan tagged posts

Depresi Saat Hamil Pengaruhi Pubertas Anak Perempuan

Momen pubertas pada anak perempuan tentu sebuah hal yang begitu penuh dinamika. Pubertas dianggap menandai dewasanya seorang anak perempuan, yang beranjak menjadi gadis. Kapan seorang gadis mengalami pubertas? Bervariasi, mulai dari usia SD, SMP, bahkan SMA.

Namun menariknya, ada sebuah fakta dari riset dua peneliti di Selandia Baru. Mereka menarik korelasi antara pubertas yang datang lebih awal dengan tingkat depresi seorang ibu. Para peneliti melibatkan 87 anak perempuan sebagai responden. Sebanyak 67 di antaranya memiliki ibu dengan masalah dalam mengelola mood.

Masalah yang dialami ibu dengan depresi ini tentu tak hanya terjadi saat anak sudah beranjak remaja. Depresi saat hamil juga menjadi hal yang bisa menyebabkan pubertas anak perempuan jadi lebih cepat. Seperti apa korelasinya? Penelitian di atas memberikan jawabannya.

Dampak Depresi Berkepanjangan Ibu terhadap Anak Perempuan

Salah satu penelitinya, Bruce J. Ellis, PhD, pengajar psikologi di University of Canterbury Selandia Baru menyimpulkan, disfungsi atau kondisi yang kurang harmonis dalam keluarga atau pernikahan orangtua, bisa memicu pubertas yang datang lebih awal bagi seorang anak gadis.

Beberapa faktor di luar aspek genetik seperti konflik keluarga, perceraian, pernikahan kedua, dan depresi yang dialami ibu, bisa menjadi pemicunya. Jika depresi telah terjadi sejak masa kehamilan hingga anak beranjak remaja, artinya kondisi ini sudah ada berlangsung selama bertahun-tahun tanpa ada solusi yang efektif.

Pernyataan serupa tentang penelitian tersebut pun datang dari  Hadine Joffe, MD, direktur Women’s Center for Behavior Endocrinology di Harvard Medical School Amerika Serikat.

Depresi Ganggu Hubungan Ibu dan Anak


Ketika seorang anak gadis memiliki ibu yang masih berusaha mengelola emosi dan depresi, ia tak akan memiliki sosok yang bisa dijadikan tempat bercerita. Padahal, seorang anak gadis tentu punya berjuta pertanyaan ketika beranjak dewasa.

Kondisi ini sebenarnya begitu krusial bagi perkembangan seorang anak perempuan. Masalah yang terjadi hanya pada seorang ibu bisa berimbas pada seluruh keluarga. Dengan demikian, tak ada salahnya mengundang seorang terapis atau psikiater untuk menjadi mediator. Kehadirannya bisa membantu mempertahankan hubungan dan ikatan antara ibu dan anak.

Jangan Sepelekan Depresi Seorang Ibu

Entah itu terjadi di masa kehamilan, usai melahirkan (post-partum depression), atau ketika anak telah beranjak remaja, depresi adalah hal yang tak boleh disepelekan. Memang, masalah mental dan emosional adalah hal yang tak kasat mata dan terkesan tidak ada urgensinya.

Namun faktanya, depresi bisa membuat seseorang begitu lelah dan sama berbahayanya seperti penyakit yang mengancam nyawa. Terlebih, dengan adanya penelitian ini, terlihat bahwa depresi yang dialami seorang ibu, bisa berdampak pada anak perempuan.

Baik ibu maupun anak perempuan, keduanya sama-sama berhak untuk menjalani hidup ini dengan semestinya, tanpa ada gangguan emosional seperti rasa depresi. Selain itu, pubertas yang terjadi lebih awal juga perlu mendapatkan perhatian khusus.

Memang, ada banyak faktor genetik yang juga bisa memengaruhi pubertas dini pada seorang gadis. Namun lagi-lagi, depresi tak bisa disepelekan. Hasil dari penelitian ini menjadi dasar untuk keputusan-keputusan klinis untuk mengatasi masalah mental.

Read more