kesehatan mental tagged posts

Hal-Hal yang Didapatkan Saat Jalani Cinta Segitiga

Pendekatan merupakan salah satu metode yang dilakukan baik oleh para lelaki maupun perempuan ketika memutuskan untuk menjalani hubungan asmara atau percintaan. Seseorang bisa menjalani hubungan dengan satu orang atau lebih, tergantung pada prinsip yang dipegang, namun biasanya kondisi ini tak jarang membuat seseorang terjebak dalam cinta segitiga atau bahkan menjalaninya.

Meski demikian, tak jarang terdapat orang yang justru memang berniat ingin menjalani cinta segitiga seperti itu. Kondisi di mana terdapat tiga orang yang saling memiliki perasaan, kebanyakan keadaan ini lebih sering dialami oleh para perempuan yang dekat dengan beberapa laki-laki. Jika sudah nyaman, perempuan terkadang bingung dalam memutuskan pilihan.

Hal yang Didapat dalam Cinta Segitiga

Seseorang perlu memutuskan kepada siapa perasaan atau cinta darinya dimiliki oleh siapa, karena pada dasarnya seseorang tidak bisa mencintai dua orang sekaligus. Lebih dari itu, beberapa hal buruk justru hanya akan didapatkan seseorang ketika memilih berada dalam situasi tersebut, berikut ini di antaranya.

  • Selalu Berbohong

Seseorang yang berada dalam jalinan asmara ini akan selalu melakukan kebohongan, seperti misalnya menolak berkencan dengan pihak satu karena sudah memiliki janji dengan pihak kedua. Akan tidak mungkin untuk mengatakan sebenarnya, sehingga yang dilontarkan hanyalah alasan-alasan palsu.

Semakin lama menjalani hubungan ini, maka akan semakin banyak pula kebohongan yang dilakukan, untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Terpaksa berbohong karena tidak ingin ada salah satu pihak yang merasa sakit hati. Namun, apakah seseorang akan terus berbohong demi menjalani hubungan asmara seperti ini.

  • Banyak Dukungan Emosi

Seseorang yang menjalani hubungan asmara ini merasa mendapat banyak perhatian dan bahkan dukungan. Otomatis juga akan merasa menerima lebih banyak rasa cinta, kasih sayang dan juga perhatian. Namun demikian, kondisi ini bukan tidak mungkin justru membuat seseorang yang menjalani hubungan ini bingung dalam memilih keputusan.

  • Merusak Persahabatan

Keinginan untuk menjaga dua cinta ini karena keduanya takut kecewa bila tidak menjadi pilihan, meski demikian hal itu sia-sia karena mereka tetap akan kecewa, bahkan mungkin sangat kecewa. Hal ini dikarenakan kedua pihak tersebut mengetahui orang yang sama-sama dicintai sebenarnya menggantungkan keduanya.

Orang yang terjebak dalam cinta seperti ini terkesan menggantungkan dua orang yang dicintainya, tak hanya itu ia secara langsung menduakan mereka. Akan lebih baik jika seseorang tegas dalam memutuskan mencintai salah satu di antara pihak tersebut. Mungkin salah satunya akan kecewa, namun itu merupakan konsekuensi yang harus ditanggung.

  • Sulit Memutuskan

Baik seorang laki-laki maupun perempuan yang terjebak dalam kondisi ini akan sulit dalam mengambil keputusan terkait pihak mana yang akan dipilihnya sebagai kekasih. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjaga jarak dari salah satu pihak, karena memang pihak tersebut bukan menjadi pilihan.

Namun demikian, hal ini tentu susah untuk dilakukan karena seseorang pasti sudah terlanjur dekat dengannya dalam waktu yang cukup lama. Akan muncul rasa kasihan dan takut untuk menjaga jarak dengan pihak tersebut, hal yang terjadi selanjutnya adalah seseorang akan tetap bertahan menjalani cinta segitiga tersebut tanpa tahu akan berakhir kapan.

Cinta model begini memang terlihat rumit, sehingga seseorang pun akan sulit dalam mengambil keputusan. Seseorang mungkin akan tetap menjalaninya meski harus bekerja keras, atau mungkin akan mencoba mengakhiri meski tahu rasa sakit hati muncul dan menjadi konsekuensinya.

Read more

Manfaat Menulis untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Manfaat menulis untuk kesehatan mental
Sumber: dribbble.com by Renee Fleck

Baik di kertas, komputer, maupun layar handphone, hampir semua orang menulis setiap harinya. Jika Anda coba menghitung waktu yang digunakan untuk menulis pesan singkat, surat elektronik, jadwal harian, bahkan mungkin daftar belanjaan, Anda mungkin akan terkejut menyadari betapa tergantungnya Anda tulisan. Sebagai alat bantu, tulisan hampir selalu ada dalam keseharian, sampai kita tidak lagi memperhatikan proses penulisan itu sendiri. Padahal manfaat menulis sangat besar, lebih dari sekadar alat yang memudahkan aktivitas. 

Terlepas dari perannya sebagai alat bantu dalam aktivitas harian, tulisan banyak digunakan sebagai bagian dari terapi oleh para ahli kejiwaan. Tentu saja tulisan yang digunakan dalam terapi bukan jenis tulisan seperti jadwal kegiatan atau daftar belanjaan, melainkan tulisan ekspresif. Prosesnya sendiri dikenal dengan menulis ekspresif atau expressive writing. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog berkebangsaan Amerika, James W. Pennebaker, pada era 80-an. 

Menulis ekspresif berarti menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Cara ini ternyata dapat memberikan dampak yang sangat kuat bagi kesehatan mental seseorang. Sesuai dengan namanya, menulis ekspresif fokus pada proses mengekspresikan dan menggambarkan pengalaman emosi, sehingga tata cara penulisan, aturan kata baku dan tidak baku, dapat dikesampingkan. 

Telah lebih dari 30 tahun, berbagai penelitian dilakukan untuk membuktikan bahwa   menulis bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Berikut ini manfaat menulis bagi kesehatan mental Anda. 

1. Meningkatkan proses pemulihan

Pemulihan yang dimaksud adalah pemulihan dari peristiwa traumatis atau kenangan yang buruk. Peristiwa-peristiwa yang berbahaya, mengejutkan, atau menakutkan, dapat menimbulkan trauma pada diri orang yang mengalaminya. 

Saking buruknya suatu peristiwa, kadang seseorang mengalami kesulitan untuk berdamai dengan kenangan pahit yang dialaminya. Seiring berjalannya waktu, orang tersebut bukannya mampu melanjutkan hidup dan melupakan kenangan tersebut, justru kenangan pahit itu malah melekat dan memicu emosi negatif. Akhirnya, tubuh akan meresponnya sebagai stres. Kondisi demikian, dalam istilah psikologi, disebut ruminasi.

Pennebaker bersama dengan rekannya, Gortner, melakukan penelitian terkait manfaat menulis ekspresif pada sejumlah mahasiswa yang diketahui mengalami ruminasi. Penelitian tersebut dilakukan selama tiga hari. Kemudian diketahui, setelah menjalani proses menulis ekspresif, kecenderungan terjadinya ruminasi pada mahasiswa tersebut menurun. 

Enam bulan kemudian, para mahasiswa tersebut kembali diteliti dengan diberi kuesioner terkait skala emosi. Berdasarkan kuesioner tersebut, terlihat bahwa menulis ekspresif dapat menurunkan gejala depresi yang diderita oleh para mahasiswa tersebut. 

2. Memperbaiki kualitas tidur

Banyak penderita insomnia yang kesulitan tidur karena pikiran buruk dan perasaan khawatir. Umumnya, hal tersebut muncul akibat adanya pemicu stres atau kerepotan yang dialami orang tersebut pada siang hari. 

Allison G. Harvey dan Clare Farrel melanjutkan penelitian yang diinisiasi oleh Pennebaker. Jika sebelumnya menulis ekspresif ditujukan untuk memproses emosi, kali ini penelitian yang dilakukan ingin menguji hipotesis bahwa menuliskan kekhawatiran dapat memperbaiki kualitas tidur dan mempercepat seseorang untuk tertidur. 

Dalam penelitian tersebut, terdapat dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang menuliskan kekhawatiran sebelum tidur, sedang kelompok kedua tidak menulis. Hasilnya, mereka yang menuliskan kekhawatirannya sebelum tidur dapat tertidur lebih cepat dibanding mereka yang tidak menulis. Dengan demikian, diketahui bahwa memperbaiki kualitas tidur memang merupakan salah satu manfaat menulis, khususnya menulis ekspresif. 

3. Membantu untuk memaafkan

Bukanlah sebuah rahasia bahwa memaafkan itu tidak mudah. Meskipun hampir setiap orang mengerti, dengan memaafkan perasaan kita menjadi lebih tenang. Akan tetapi, ada peristiwa-peristiwa yang membuat kita terluka sangat dalam, bahkan menjadi trauma. Sehingga memaafkan orang yang terlibat di dalam peristiwa tersebut sangat sulit. 

Ternyata dengan menulis ekspresif, yaitu menuliskan emosi apa yang dirasakan saat mengalami peristiwa tertentu, mengapa sulit memaafkan orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut, dan seterusnya, dapat membantu untuk memproses luka dan mulai memaafkan. 

Seperti yang telah dijelaskan, menulis ekspresif berfokus pada perasaan dan pikiran Anda. Bukan pada aturan penulisan. Sehingga Anda tidak perlu khawatir dan merasa tidak mampu menulis dengan baik. Jika Anda ingin merasakan manfaat menulis bagi perbaikan kesehatan mental Anda, caranya hanya satu, mulailah menulis!

Read more