manfaat menulis tagged posts

Manfaat Menulis untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Manfaat menulis untuk kesehatan mental
Sumber: dribbble.com by Renee Fleck

Baik di kertas, komputer, maupun layar handphone, hampir semua orang menulis setiap harinya. Jika Anda coba menghitung waktu yang digunakan untuk menulis pesan singkat, surat elektronik, jadwal harian, bahkan mungkin daftar belanjaan, Anda mungkin akan terkejut menyadari betapa tergantungnya Anda tulisan. Sebagai alat bantu, tulisan hampir selalu ada dalam keseharian, sampai kita tidak lagi memperhatikan proses penulisan itu sendiri. Padahal manfaat menulis sangat besar, lebih dari sekadar alat yang memudahkan aktivitas. 

Terlepas dari perannya sebagai alat bantu dalam aktivitas harian, tulisan banyak digunakan sebagai bagian dari terapi oleh para ahli kejiwaan. Tentu saja tulisan yang digunakan dalam terapi bukan jenis tulisan seperti jadwal kegiatan atau daftar belanjaan, melainkan tulisan ekspresif. Prosesnya sendiri dikenal dengan menulis ekspresif atau expressive writing. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog berkebangsaan Amerika, James W. Pennebaker, pada era 80-an. 

Menulis ekspresif berarti menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Cara ini ternyata dapat memberikan dampak yang sangat kuat bagi kesehatan mental seseorang. Sesuai dengan namanya, menulis ekspresif fokus pada proses mengekspresikan dan menggambarkan pengalaman emosi, sehingga tata cara penulisan, aturan kata baku dan tidak baku, dapat dikesampingkan. 

Telah lebih dari 30 tahun, berbagai penelitian dilakukan untuk membuktikan bahwa   menulis bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Berikut ini manfaat menulis bagi kesehatan mental Anda. 

1. Meningkatkan proses pemulihan

Pemulihan yang dimaksud adalah pemulihan dari peristiwa traumatis atau kenangan yang buruk. Peristiwa-peristiwa yang berbahaya, mengejutkan, atau menakutkan, dapat menimbulkan trauma pada diri orang yang mengalaminya. 

Saking buruknya suatu peristiwa, kadang seseorang mengalami kesulitan untuk berdamai dengan kenangan pahit yang dialaminya. Seiring berjalannya waktu, orang tersebut bukannya mampu melanjutkan hidup dan melupakan kenangan tersebut, justru kenangan pahit itu malah melekat dan memicu emosi negatif. Akhirnya, tubuh akan meresponnya sebagai stres. Kondisi demikian, dalam istilah psikologi, disebut ruminasi.

Pennebaker bersama dengan rekannya, Gortner, melakukan penelitian terkait manfaat menulis ekspresif pada sejumlah mahasiswa yang diketahui mengalami ruminasi. Penelitian tersebut dilakukan selama tiga hari. Kemudian diketahui, setelah menjalani proses menulis ekspresif, kecenderungan terjadinya ruminasi pada mahasiswa tersebut menurun. 

Enam bulan kemudian, para mahasiswa tersebut kembali diteliti dengan diberi kuesioner terkait skala emosi. Berdasarkan kuesioner tersebut, terlihat bahwa menulis ekspresif dapat menurunkan gejala depresi yang diderita oleh para mahasiswa tersebut. 

2. Memperbaiki kualitas tidur

Banyak penderita insomnia yang kesulitan tidur karena pikiran buruk dan perasaan khawatir. Umumnya, hal tersebut muncul akibat adanya pemicu stres atau kerepotan yang dialami orang tersebut pada siang hari. 

Allison G. Harvey dan Clare Farrel melanjutkan penelitian yang diinisiasi oleh Pennebaker. Jika sebelumnya menulis ekspresif ditujukan untuk memproses emosi, kali ini penelitian yang dilakukan ingin menguji hipotesis bahwa menuliskan kekhawatiran dapat memperbaiki kualitas tidur dan mempercepat seseorang untuk tertidur. 

Dalam penelitian tersebut, terdapat dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang menuliskan kekhawatiran sebelum tidur, sedang kelompok kedua tidak menulis. Hasilnya, mereka yang menuliskan kekhawatirannya sebelum tidur dapat tertidur lebih cepat dibanding mereka yang tidak menulis. Dengan demikian, diketahui bahwa memperbaiki kualitas tidur memang merupakan salah satu manfaat menulis, khususnya menulis ekspresif. 

3. Membantu untuk memaafkan

Bukanlah sebuah rahasia bahwa memaafkan itu tidak mudah. Meskipun hampir setiap orang mengerti, dengan memaafkan perasaan kita menjadi lebih tenang. Akan tetapi, ada peristiwa-peristiwa yang membuat kita terluka sangat dalam, bahkan menjadi trauma. Sehingga memaafkan orang yang terlibat di dalam peristiwa tersebut sangat sulit. 

Ternyata dengan menulis ekspresif, yaitu menuliskan emosi apa yang dirasakan saat mengalami peristiwa tertentu, mengapa sulit memaafkan orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut, dan seterusnya, dapat membantu untuk memproses luka dan mulai memaafkan. 

Seperti yang telah dijelaskan, menulis ekspresif berfokus pada perasaan dan pikiran Anda. Bukan pada aturan penulisan. Sehingga Anda tidak perlu khawatir dan merasa tidak mampu menulis dengan baik. Jika Anda ingin merasakan manfaat menulis bagi perbaikan kesehatan mental Anda, caranya hanya satu, mulailah menulis!

Read more