panic buying tagged posts

Apa Penyebab Panic Buying Saat Wabah Terjadi?

Apabila Anda sering membaca koran atau melihat berita seputar wabah COVID-19, panic buying menjadi salah satu topik menarik yang terus menerus terjadi, dan diberitakan, di hampir semua negara. Pada saat awal outbreak coronavirus ini terjadi, orang-orang akan menyimpan banyak persediaan masker dan hand sanitiser.

Saat ini, dengan kondisi pandemi yang semakin memburuk, orang-orang mulai menimbun makanan, minuman, dan bahkan tisu toilet. Hal ini tidak hanya terjadi di negara berkembang saja. Negara-negara maju seperti Amerika, Kanada, Inggris, dan Australia mengalami masalah panic buying yang sama. Orang-orang berlomba-lomba membeli barang-barang sebanyak mungkin, dan tidak jarang menimbulkan perkelahian hanya demi mendapatkan 1 kemasan tisu toilet. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa panic buying tersebut terjadi?

Panic buying, atau menimbun barang, memang bukanlah sebuah tingkah laku yang patut untuk dicontoh ataupun dilakukan. Namun, hal tersebut dapat dimaklumi mengingat saat orang-orang melihat sebuah krisis sebuah kota, daerah, atau bahkan seluruh negara mengalami karantina. Orang-orang menganggap COVID-19 sebagai sebuah ancaman nyata, yang tidak akan hilang dalam beberapa hari, namun dapat bertahan hingga berbulan-bulan. Kecemasan tersebut diperparah apabila masyarakat tidak memiliki keyakinan dengan pihak otoritas atau negara dalam mengatasi pandemi tersebut. Informasi yang salah, dilebih-lebihkan, dan menakut-nakuti tentang kondisi pandemi juga menjadi kunci penting mengapa orang melakukan panic buying. Selain itu, panic buying juga bisa disebabkan karena:

  • Dua cara berpikir

Manusia memiliki dua tingkatan dalam mengambil keputusan. Pada level yang paling dasar, keputusan seseorang dapat dimengerti sebagai sebuah interaksi antara pemikiran logis dan pemikiran emosional. Kedua sistem tersebut menggunakan pengerjaan yang berbeda. Pemikiran logis akan menghitung dan menimbang bukti, sementara pemikiran emosional lebih intuitif, cepat, otomatis, dan mudah diakses dalam kesadaran. Pemikiran logis akan berpikir “Tidak, saya tidak perlu beli lebih banyak tisu toilet.” Namun, pemikiran emosional akan berkata “lebih baik aman daripada menyesal di kemudian hari.” Pemikiran emosional manusia lebih selaras dengan penggambaran visual, dan banyak orang sudah sering melihat gambar-gambar orang memakai masker dan APD di sosial media dan berita.

  • Kecemasan antisipatif

Saat ini orang-orang sedang mengalami kecemasan antisipatif. Kecemasan ini terjadi sebelum sebuah kejadian terjadi. Contoh kecemasan antisipatif misalnya Anda merasa khawatir dengan hasil pemeriksaan medis atau sedang mempersiapkan diri sebelum wawancara kerja. Dalam kasus pandemi COVID-19, rasa takut dan cemat tersebut terjadi jauh sebelum infeksi sesungguhnya menyerang.

  • Rasa takut itu menular

Sama halnya dengan virus, rasa takut itu menular dari satu orang ke orang yang lain. Hal ini dapat terjadi meskipun awalnya seseorang tidak memiliki rasa takut sama sekali. Sebagai hasilnya, sekelompok orang yang tadinya tidak tahu satu sama lain dapat merasa bersatu secara emosional. Dalam kasus panic buying, seseorang akan berpikir “karena mereka membeli barang dalam jumlah yang banyak, saya lebih baik melakukannya juga.”

  • Herd mentality

Herd mentality juga merupakan penyebab lain dari panic buying. Sebagai makhluk sosial, kita akan menginterpretasikan bahaya akan suatu hal berdasarkan bagaimana orang lain bereaksi. Saat naluri sosial mulai muncul, orang akan berhenti melakukan penilaian akan suatu hal dan melakukan apapun yang orang lain lakukan. Selain hal-hal tersebut di atas, panic buying juga dapat disebabkan karena adanya rumor dan berita hoax yang menyebar di masyarakat. Informasi yang salah tersebut dapat menyebar dari berita ataupun media sosial.

Read more